Samsung Galaxy A7 2016: Ini Bukan Flagship!

Category : Smartphone

Jakarta – Di awal tahun 2016 ini Samsung mampu dibilang cukup sukses menggebrak jagat smartphone dengan merilis Galaxy S7. Tak dapat dipungkiri, segala mata tertuju pada perangkat yg hadir dengan beberapa varian itu Galaxy S7 dan S7 Edge.

Meski demikian, panggung Samsung di tahun 2016 nyatanya bukan cuma punya Galaxy S7. Di sisi lain, vendor yang berasal Korea Selatan ini juga merilis deretan perangkat yg tidak kalah menarik, yakni seri Galaxy A terbaru dengan embel-embel tahun 2016 di belakangnya.

Memang bila dibandingkan dengan Galaxy S7, seri A yg terdiri dari Galaxy A3, Galaxy A5, dan Galaxy A7 2016 ini memiliki segmen berbeda. Bila Galaxy S7 mengincar pasar pengguna ponsel premium, maka ketiga handset Galaxy A tadi lebih bagi menyasar pasar pengguna ponsel menengah.

Karenanya, jangan heran bila harga yg dibanderol berada jauh di bawah Galaxy S7. Dari ketiga seri yg telah disebut, detikINET berkesempatan bagi mencicipi performa dari Galaxy A7 yg disebut sebagai ponsel dengan kasta tertinggi di antara ketiga seri tadi.

Hadir dengan bentang layar 5,5 inch Full HD, Galaxy A7 2016 dipersenjatai dengan chipset Exynos 7580 octa core dengan kecepatan 1,6 GHz, RAM 3 GB, dan memori internal 16 GB dengan slot microSD tentunya.

Lalu seperti apa performa ponsel yg dibanderol dengan harga Rp 6,5 juta ini? Simak pengalaman detikINET menjajal Galaxy A7 2016 berikut!

Desain Mewah

Selama menggenggam Galaxy A7 2016 tidak sedikit dari orang-orang yg mengira bahwa ini adalah Galaxy S7. Adapula yg mengiranya ini sebagai Galaxy S6. Tidak heran memang, karena sebagai pemain besar di jagat ponsel Samsung dikenal sebagai vendor yg kerap merilis handset dengan desain yg beda-beda tipis.

Namun terlepas dari dugaan yg dilayangkan itu, ada nilai positif tersendiri. Ya, Samsung sukses menyulap desain Galaxy A7 2016 menjadi kelihatan mewah dan elegan bak ponsel flagship. Padahal dari segi harga dan jeroan, ponsel ini dirancang bagi segmen menengah.

Mungkin rasa yg mirip-mirip itu kelihatan dari penggunaan perpaduan material kaca dan metal yg telah melekat di seri Galaxy S dimulai dari Galaxy S6. Sedangkan bagi Galaxy A, Samsung lebih memilih memakai material metal di sekujur bodinya.

Masuk ke bagian depan, bentuk Galaxy A7 2016 tak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Dimana terdapat tombol home fisik berbentuk oval yg tercetak di sisi tengah, mengapit tombol back dan multitasking tersembunyi di sisi kanan dan kiri. Logo Samsung masih tercetak jelas di sisi atas layar.

Yang membedakan di sini hanyalah fungsi tombol home yg kini telah dilengkapi dengan fitur sidik jari. Seperti halnya dengan sensor sidik jari di dua handset, sensor sidik jari Galaxy A7 2016 dapat berfungsi sebagai alat verifikasi keamanan, baik pembayaran atau cuma sekedar membuka kunci layar.

Bila dicoba, penggunaan sidik jari di Galaxy A7 2016 tidak terlalu cepat. Butuh penempatan jari yg proporsional, tak dapat yang berasal tempel. Selain itu, Anda harus mengaktifkan layar terlebih dulu baru dapat membuka kunci.

Bila melongok ke sektor layar, baik Galaxy A7 2016 maupun 2015 masih sama-sama mengusung layar dengan ukuran dan resolusi yg sama, yakni AMOLED 5,5 inch Full HD (1.920×1.080 pixel) yg dilapisi oleh lapisan pelindung Corning Gorilla Glass 3.

Memang lapisan pelindung ini terkenal tangguh dan dapat melindungi permukaan layar dari goresan halus dan kasar. Namun sebagai saran tidak salah seandainya user tetap memakai tempered glass agar perlindungan lebih maksimal.

Walau terkesan bongsor, menggenggam handset ini masih terbilang nyaman dan terasa solid. Hal ini mungkin dikarenakan Galaxy A7 2016 dirancang dengan sudut-sudut yg melengkung, tak tajam dan kaku. Tombol power di sisi kanan pun masih dapat dijangkau oleh jempol walau menggenggam dengan sesuatu tangan.

Pun begitu, karena bodi belakang terbuat dari material kaca, maka menggenggam Galaxy A7 2016 haruslah hati-hati. Sebab, selain gampang meninggalkan bercak sidik jari, tidak dipungkiri lapisan kaca juga menimbulkan kesan licin.

Seperti yg telah dijelaskan tadi, Anda mulai menemukan bagian punggung yg tak lagi berbahan material metal, melainkan kaca. Penempatan kamera penting 13 MP pun tak jauh berbeda dengan seri 2015, cuma letak flash yg berpindah ke samping kanan kamera.

Logo Samsung kembali bisa kami temukan di bawah kamera. Karena perangkat ini mengusung konsep unibodi, maka Samsung menyediakan slot kartu SIM nano dan microSD yg mampu ditemukan di sisi kanan dan atas. Terakhir, tidak berbeda dengan seri sebelumnya, port micro USB, lubang jack audio 3,5 mm, serta speaker berada sisi bawah ponsel.

Layar Tajam

Teknologi layar AMOLED Samsung memang terkenal dengan teknologi layar yg menghasilkan tingkat ketajaman dan kecerahan warna yg cerah serta tinggi. Tak ayal, warna-warna primer seperti hitam dan merah kelihatan tajam. Kami pun sempat tersihir saat pertama kali menyalakannya.

Dengan ukuran layar yg cukup bongsor, kerapatan pixel yg dihasilkan nyatanya cukup baik, yakni mencapai 403ppi. Penggunaan di bawah terik matahari masih mampu dilakoni dengan baik dan layarnya kelihatan jelas tanpa bayangan. Begitu pula dengan pemakaian di dalam ruangan yg minim cahaya, yg bila mengaktifkan auto brightness, maka layarnya tak kelihatan menyilaukan.

Penasaran dengan ketajaman warna yg dihasilkan, detikINET pun menjajalnya dengan bermain game dengan kualitas grafis tinggi dan menonton video. Hasilnya, perangkat ini memiliki kualitas layar yg mampu disandingkan dengan perangkat sekelasnya. Sangat puas dan dapat diandalkan buat pengguna yg hobi mengkonsumsi konten hiburan, apalagi ditambah layarnya yg luas.

Seperti biasanya, Samsung menyematkan user interface TouchWiz di atas sistem operasi yg sayangnya masih berjalan dengan Android 5.1.1 Lollipop. Jatah Marshamallow sendiri ketika ini baru sampai pada perangkat-perangkat Samsung kelas atas, semisal Galaxy Note 5 dan yg terbaru Galaxy S7 dan S7 Edge.

Jadi harap bersabar sampai Samsung menggulirkan Marshamallow di perangkat ini. Karena memakai TouchWiz, maka tampilan antarmukanya tak jauh berbeda dengan perangkat Samsung yang lain yg telah kadang Anda lihat.

Kelebihan lainnya yg ditampilkan adalah multi windows. Ya, fitur ini memang telah lama muncul di dua seri handset Samsung. Dengan multi windows ini Anda dapat membuka beberapa aplikasi sekaligus di dalam sesuatu layar secara bersamaan. Anda juga mampu mengecilkan (minimize) aplikasi yg dibuka, pun tak seluruh aplikasi mendukung fitur ini.

Performa Hadrware

Di atas kertas, Galaxy A7 2016 dibekali dengan hardware yg terdiri dari prosesor octa core Exynos 7580 1,6 GHz Cortex-A53, RAM 3 GB, dan memori internal 16 GB. Penggunaan chipset Exynos 7580 yaitu peningkatan dibanding generasi sebelumnya yg cuma mengandalkan Exynos 5430.

Perubahan di sini juga kelihatan dari pembekalan RAM yg dari 2 GB menjadi 3 GB. Dalam pengujian benchmark yg dikerjakan dengan memakai AnTuTu Benchmark v6.0.1, didapat torehan skor 41.850. Memang uji benchmark tak mampu dikatakan mewakili performa handset secara keseluruhan.

Namun paling tak dapat memberikan gambaran kepada pemilik mengenai kapasitas dan performa handsetnya. Tak cuma memakai AnTuTu, pengujian juga berlanjut dengan memakai Geekbench 3.

Secara peringkat, single core Galaxy A7 2016 yg memiliki torehan skor 685 berada di atas Motorola Moto X (669) dan Galaxy S4 (658). Namun, masih di bawah LG Nexus 5 (860). Sementara di sektor multicore (3.586), perangkat ini bertaji cukup baik di atas HTC Nexus 9 (3.215), Motorola Nexus 6 (3.006), bahkan Samsung Galaxy S5 (2.836).

Lalu bagaimana dengan pengalaman secara langsung? Selama menjajal perangkat ini selama berminggu-minggu. Kami jarang menemui adanya lag. Kalaupun ada, paling itu cuma crash yg diakibatkan oleh aplikasi itu sendiri. Penggunaan multitasking dan multiwindows juga mampu dilakoni dengan baik.

Jarang bukan berarti tak ada lag. Adapula saat-saat dimana lag hinggap, yg untungnya masih mampu ditangani dengan baik. Geser-geser layar masih dapat teratasi, namun tak saat membuka kunci layar. Sering kali kalian kesulitan buat membuka gembok layar yg padahal cuma tinggal geser.

Kamera Cerah

Yang kadang menjadi pertanyaan saat sebuah ponsel meluncur selain performa hardware tentu urusan kamera. Bagaimana dengan kameranya? Bagus tidak? Ya, kira-kira itulah pertanyaan yg kerap muncul.

Kamera sejak dua tahun belakang seolah menjadi kebutuhkan utama dan wajib hukumnya untuk pengguna gadget. Paham mulai hal itu Samsung menghadirkan kamera penting 13 MP dan kamera depan 5 MP. Ukuran megapiksel yg umum diberikan oleh setiap vendor ponsel di masa sekarang.

Meski demikian, yg membedakan di sini adalah bukaan yg kecil, yakni f/1.9. Bukaan ini sebelumnya pernah dihadirkan bagi Galaxy S6 dan Galaxy Note 5. Dengan bukaan yg kecil, maka cahaya yg ditangkap lebih banyak lagi. Membuat hasil jepretan kelihatan lebih cerah, bahkan di keadaan minim cahaya sekalipun.

Pun demikian, tidak dipungkiri masih kelihatan noise di dua titik saat pengambilan gambar dalam keadaan malam. foto kelihatan menawan saat jeprat-jepret di siang hari.

Hasil yg tidak kalah menarik juga ditunjukkan oleh kamera depannya yg 5 MP. Serupa dengan kamera utama, kamera depan juga dibekali dengan bukaan f/1.9. Selfie pun tidak perlu takut low light, karena bukaan tadi dapat menangkap cahaya lebih banyak dari bukaan di versi sebelumnya.

Selain bukaan tadi, masih ada dua fitur andalan, seperti Optical Image Stabilization, Autofocus, face detection, panorama, dan ketinggalan LED flash yg menemani kamera utama. Untuk lebih jelasnya, mampu lihat hasil gambar di bawah.

Opini detikINET

Samsung di sini kelihatan ingin membuat sebuah pergeseran desain dan penggunaan material di jajaran perangkat smartphone kelas menengahnya. Seri Galaxy A inilah contohnya. Dimana dahulu hadir dengan desain full metal, maka kini diubah dengan perpaduan kaca.

Jadi tak heran bila sebagian orang tak mengenali ini sebagai Galaxy A7 2016 karena image metal yg dahulu melekat. Lalu bagaimana dengan desain full metal? Dari rumor yg beredar, kabarnya desain metal mulai hadir buat seri Galaxy J.

Desain telah oke dan kelihatan elegan, performa yg ditawarkan pun tidaklah buruk. Bermain game yg berat dan multitasking buktinya masih mampu dijalani dengan baik. Lag yg hadir terkadang ini masih dapat dianggap wajar. Sidik jari yg ditawarkan telah cukup responsif.

Sektor kamera menjadi daya jual tersendiri dari perangkat ini. Bukaan yg kecil bak Galaxy S6 membuat Galaxy A7 2016 menjadi senjata ampuh bagi mengabadikan momen. Meski Samsung tidak pernah mendeklarasikan ini sebagai ponsel kamera. Hanya saja harga yg ditawarkan masih terbilang tinggi buat ponsel kelas menengah..

(mag/ash)

Sumber: http://inet.detik.com

Demikianlah artikel mengenai Samsung Galaxy A7 2016: Ini Bukan Flagship!, semoga bermanfaat untuk sobat Market Pulsa.

Pengunjung masuk dengan keyword :

Related Posts